Rabu, 26 Februari 2014

Pemahaman dan Pelaksanaan Nilai.

Ngudi Ngilmu3b

4 Mei 2011 pukul 22:23
  1. Pemahaman dan Pelaksanaan Nilai.
Selanjutnya, dalam kenyataan hidup ada dua hal yang muncul dari persoalan nilai, yaitu kesadaran dan pemahaman terhadap nilai dan kesanggupan melaksanakannya. Idealnya keduanya harus singkron, artinya untuk dapa melakukan apa yang semestinya harus dilakukan, terlebih dahulu orang harus mengetahui, menyadari, dan memahami nilai-nilai, dan apabila nilai sudah dipahami sebagaimana semestinya maka kesanggupan untuk melaksanakan nilai bisa diwujudkan, tetapi tidak selalu demikian. Dalam praktek kehidupan sehari-hari banyak orang memahami nilai bahkan mungkin mengetahui banyak hal, juga memiliki wawasan keilmuan yang cukup luas, tetapi kurang atau tidak susila, jadi tidak secara otomatis orang telah memahami nilai pasti melaksanakannya.
Kejadian ini sangat wajar karena memahami adalah kemampuan penalaran (kognitif), sedangkan bersedia melaksanakan adalah sikap (kemampuan afektif), yang masing-masing memiliki kondisi yang berbeda. Antara keduanya terdapat jarak yang perlu dijembatani, dari memahami perlu meyakini, untuk selanjutnya menuju ke penginternalisasian (penyaturagaan) nilai-nilai baru sampai kepada melakukan. Dari sini dapat kita pahami antara memahami dan melaksanakan yang rentangnya begitu jauh, antara niat (kesediaan untuk melaksanakan) dengan perbuatan (melaksankan) yang rentangnya begitu dekat saja masih sering terjadi kesenjangan, sering niat baik sudah menggebu-gebu tetapi tidak sampai berkelanjuutan pada perbuatan. Lazimnya penilaian masyarakat terhadap kualitas kesusilaan seseorang tertuju kepada apa yang diperbuatnya dan tidak semata-mata pada apa yang diniatkanya, sehingga niat buruk yang belum terlakukan (jika dikethui) sering masih dimaafkan.
Berdasarkan uraian diatas maka pendidikan kesusilaan meliputi rentangan yang luas penggarapanya, mulai ranah kognitif yaitu dari mengetahui sampai kepada menginternalisasi nilai sampai kepada ranah afektif, yakni meyakini, meniati sampai kepada siap sedia untuk melakukan. Meskipun demikian, tekanan seharusnya diletakkan pada ranah afektif. Konsekwensinya adalah sering memakan waktu yang panjang pemprosesanya, berkesinambungan dan memerlukan kesabaran serta ketekunan dari pihak pendidik. Dimuka telah disinggung bahwa kesusilaan bertalian erat dengan kesadaran akan kewajiban dan hak, adanya perimbangan yang selaras antara melaksanakan kewajiban dengan tuntutan terhadap hak (to give and to take) didalam kehidupan menggambarkan kesusilaan yang sehat. Didalam dunia pendidikan yang intinya adalah pelayanan, maka seyogyanya berlaku hukum “saya akan memberikan lebih daripada yang saya terima”.
Implikasi pedagogisnya ialah bahwa pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan kesediaan melakukan kewajiban disamping hak kepada peserta didik. Kepada masyarakat kita, pemahaman terhadap hak (secara obyektif) masih perlu ditanamkan tanpa mengabaikan kesadaran dan kesediaan melaksanakan kewajiban. Hal ini penting, sebab kepincangan antara keduanya bagaimanapun juga akan mengganggu suasana hidup yang sehat.
  1. Dimensi Keagamaan.
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius. Sejak dahulu kala, sebelum manusia mengenal agama, mereka telah percaya bahwa diluar alam yang dapat dijangkau dengan perantara alat inderanya, diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk dapat berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada kekuatan tersebut diciptakanya mitos-mitos, misalnya untuk meminta sesuatu dari kekuatan-kekuatan tersebut dilakukan bermacam-macam upacara, menyediakan sesajen-sesajen, dan memberikan korban-korban. Sikap dan kebiasaan yang membudaya pada nenek moyang kita seperti itu dipandang sebagai embrio dari kehidupan manusia dalam beragama. Kemudian setelah adanya ajaran agama, maka manusia mulai menganutnya.
Berikut sebuah iktisar bagi sebuah bentuk kehidupan manusia dalam kehidupan agamanya. “ Hari demi hari berlalu. Demikian juga minggu, bulan, dan tahun. Kita, baik sebagai individu maupun masyarakat , dalam hari-hari yang berlalu itu, senantiasa mengisi lembaran-lembaran yang setiap tahun kita tutup untuk kemudian kita buka kembali dengan lembaran baru pada tahun berikutnya. Lembaran-lembaran itu adalah sejarah hidup kita secara amat rinci, dan itulah kelak yang akan disodorkan kepada kita - sebagai individu dan masyarakat - untuk dibaca dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada Hari Kemudian nanti, Bacalah lembaran (kitabmu), cukuplah engkau sendiri hari ini yang akan melakukan perhitungan atas dirimu (QS 17:14). Engkau akan melihat setiap umat berlutut, setiap umat diajak untuk membaca kitab amalan (sejarahnya) (QS 45:28).
Al Quran adalah buku pertama yang menegaskan bahwa bukan hanya individu, tetapi juga bangsa dan masyarakat, mempunyai hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengarahkan dan menentukan keruntuhan dan kebangkitannya. Masyarakat terdiri dari individu-individu , dan manusia sebagai individu mempunyai potensi untuk mengarahkan masyarakat dan diarahkan olehnya. Karena itu, manusia sebagai individu dan manusia sebagai kelompok masyarakat bertanggung jawab atas dirinya dan atas masyarakatnya.
Dari sinilah lahir apa yang dikenal dalam istilah hukum Islam sebagai fardhu ain dan fardhu kifayah. Tuhan tidak mengubah keadaan suatu masyarakat , sebelum mereka mengubah (terlebih dahulu) sikap mental mereka (QS 13:11). Begitu bunyi sebuah ayat yang menafikan secara tegas ketentuan ekonomi sejarah dan secara tegas pula menempatkan sikap terdalam manusia sebagai faktor penentu kelahiran sejarah.
Dari sini dapat dipahami, mengapa para Nabi memulai langkah mereka dengan menanamkan kesadaran terdalam itu dalam jiwa umat. Darimana Anda Datang? Kemana Anda menuju? Bagaimana alam ini mewujud dan ke arah mana ia bergerak? "Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya" dan "Akhir dari segala siklus adalah kembalinya kepermulaan", demikian para sufi dan filosof Muslim merumuskan. Itulah kesadaran pertama yang ditanamkan pada manusia. Kemudian disusul dengan kesadaran jenis kedua, yaitu kesadaran akan kemanusiaan manusia serta kehormatannya. Ruh Ilahi dan potensi berpengetahuan yang diperoleh makhluk ini dari Tuhan, mengundangnya untuk memanusiakan dirinya dengan jalan mengaktualkan pada dirinya sifat-sifat Ilahi sesuai dengan kemampuannya.
Dan kesadaran ketiga yang ditanamkannya adalah kesadaran akan tanggung jawab sosial. Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah, sedangkan kaum lemah tertindas, baik lelaki, wanita, maupun anak-anak bermohon agar mereka dikaruniai penolong dan pelindung dari sisi Allah, demikian pesan Al Quran surah Al Nisa ayat 75. Ayat diatas mengandung dua nilai keruhanian, yakni keniscayaan berjuang di jalan Allah dan tanggung jawab melindungi kaum lemah. Perjuangan yang dilakukan karena Allah dan yang digerakkan oleh nilai-nilai suci itulah yang memajukan umat manusia dan peradabannya sekaligus mengukir sejarahnya dengan tinta emas. Nah, kalau manusia atau masyarakat mampu mengisi hari-hari yang berlalu dalam hidupnya atas dasar kesadaran di atas, maka disanalah dia memperoleh kebahagiaan abadi. Dalam hal ini Al Quran menegaskan: Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah hidupnya dengan tangan kanannya (QS 17:71)”. “Quraish Shihab, dikutip dari buku "Lentera Hati": Kisah dan Hikmah Kehidupan", oleh M. Quraish Shihab, Penerbin Mizan, Maret 1995. Rabu, 05/12/2000 00:55:00 WIB.
Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya, manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama. Ph. Kohnstam berpendapat, bahwa pendidikan agama seyogyanya menjadi tugas orang tua dalam lingkungan keluarganya, karena pendidikan agama adalah persoalan afektif dan kata hati. Pesan-pesan agama harus tersalur dari hati kehati, terpancar dari ketulusan serta kesungguhan hati orang tua dan menembus ke anak. Dalam pendidikan agama peran orang tua sangat penting sebagai pendidik, karena adanya hubungan sedarah dengan anak. Disini pendidikan agama yang diberikan secara massal kurang sesuai (M. Thayeb, 1972: 14-15).
Pendapat Ph. Kohnstam ini mengandung kebenaran dilihat dari segi kualitas hubungan antara pendidik dengan peserta didik, disamping itu juga, penanaman sikap dan kebiasaan dalam beragama dimulai sedini mungkin, meskipun masih terbatas pada latihan kebiasaan (habbit formation). Tetapi untuk pengembangan pengkajian lebih lanjut tentunya tidak dapat diserahkan hanya kepada orang tua. Untuk itu pengkajian agama secara massal dapat dimanfaatkan misalnya pendidikan agama disekolah, madrasah, dan pondok pesantren. Dan karena pentingnya peran agama dalam kehidupan baik sebagai individu dan anggota masyarakat, seyogyanya pendidikan agama dilakukan secara formal, labih khususnya informal dan non-formal.
  1. Pengembangan dimensi Hakikat Manusia.
Seperti yang berulang kali diungkapkan, sasaran pendidikan adalah manusia, sehingga dengan sendirinya pengembangan dimensi hakikat manusia menjadi tugas pendidikan. Manusia lahir telah dikaruniai dimensi hakikat manusia tetapi masih dalam wujud potensi, belum teraktualisasi menjadi wujud kenyataan atau “aktualisasi”. Dari kondisi “potensi” menjadi wujud aktualisasi terdapat rentangan proses yang mengundang pendidikan untuk berperan dalam memberikan jasanya. Seseorang yang dilahirkan dengan bakat seni misalnya, memerlukan pendidikan untuk proses menjadi seniman terkenal. Setiap manusia lahir dikarunia “naluri” yaitu dorongan-dorongan yang alami (dorongan makan, seks, mempertahankan diri, cinta, kasih-sayang, dan lain-lain). Jika seandainya manusia dapat hidup hanya dengan naluri maka manusia tidak ubahnya dengan hewan (tidak beradab).
Dalam sebuah riwayat menceritakan, “ pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu”.
Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu”. Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."
Dalam perjalanan mereka berdua beranjak pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan perkataan mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T sahaja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahwa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya”.
Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu." Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah." Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu.
Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung. Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya".
Hanya melalui pendidikan status hewani itu dapat diubah kearah status manusiawi, seperti ungkapan Arab dari Imam Syafi’I, Al insanu bila ngilmin kalbahaim- manusia tanpa ilmu adalah seperti hewan. Persoalan agama juga demikian keimanan sesorang tidak akan sempurna tanpa melakukan syariat-syariatnya, meskipun pendidikan itu pada dasarnya baik tetapi pada pelaksanaanya mungkin saja bisa terjadi kesalahan-kesalahan yang lazimnya disebut salah didik. Hal demikian bisa terjadi karena pendidik itu adalah manusia biasa, yang tidak luput dari dari kelemahan-kelemahan. Sehubungan dengan itu dengan itu ada dua kemungkinan yang bisa terjadi :
  1. Pengembangan yang utuh.
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua factor, yaitu kualitas manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembanganya. Meskipun ada tendensi pandangan modern yang lebih cenderung memberikan tekanan pada pengaruh factor lingkungan. Optimisme ini timbul berkat pengaruh perkembangan IPTEK yang sangat pesat yang memberikan dampak kepada peningkatan perekayasaan pendidikan melalui teknologi pendidikan.
Namun demikian kualitas dari akhir pendidikan sebenarnya harus dipulangkan kembali kepada peserta didik itu sendiri sebagai obyek atau sasaran pendidikan. pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang sanggup menghantarkan subyek didik menjadi seperti dirinya sendiri selaku anggota masyarakat. Selanjutnya pengembangan yang utuh dapat dilihat dari berbagai segi yaitu :
1). Dari wujud dimensinya.
Keutuhan terjadi antara aspek jasmani dan rohani, antara dimensi keindividualitas, social, kesusilaan, dan keagamaan, antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pengembangan aspek jasmani dan rohani dikatakan utuh jika keduanya mendapat pelayanan secara seimbang. Meskipun diakui bahwa nilai manusia akhirnya ditentukan oleh kualitas berkembangnya aspek rohaniahnya seperti, pandai, berwawasan luas, berpendirian teguh tetapi bertenggang rasa atau dinamis, kreatif, tanpa terlalu memandang bagaimana kondisi fisiknya. Namun demikian demi keutuhan pengembangan aspek fisik tidak boleh diabaikan, karena gangguan fisik dapat berdampak pada kesempurnaan perkembangan rohaniah.
Pengembangan dimensi individualitas, social, kesusilaan, dan keagamaan dikatakan utuh jika semua dimensi tersebut mendapat layanan dengan baik, tidak terjadi pengabaian terhadap salah satu dan lainya. Dalam hal ini pengembangan dimensi keagamaan menjadi tumpuan dari ketiga dimensi tersebut. Pengembangan dimensi kognitif, afektif dan psikomotor dikatakan utuh jika ketiga-tiganya mendapat pelayanan yang brimbang. Pengutamaan domain kognitif dengan mengabaikan pengembangan domain afektif misalnya, yang terjadi pada kebanyakan sistem sekolah dewasa ini hanya akan menciptakan orang-orang pintar namun tidak berkarakter manusiawi.
2). Dari arah pengembanganya.
Keutuhan pengembangan dimensi hakikat manusia dapat diarahkan kepada pengembangan dimensi individualisme, social, kesusilaan, dan keagamaan secara terpadu. Keempat dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lainya, jika dianalisis satu persatu gambaranya adalah sebagai berikut ;
-         Pengembangan yang sehat terhadap dimensi  individualisme memberi peluang pada seseorang untuk mengadakan eksplorasi terhadap kekuranganya. Segi positif yang ada ditingkatkan dan yang negativ dihambat. Pengembangan yang terarah konsentris ini bermakna memperbaiki diri atau meningkatkan martabat aku sekaligus juga membuka jalan kearah bertemunya suatu pribadi dengan pribadi yang lain secara selaras tanpa mengganggu otonomi masing-masing.
-         Pengembangan yang sehat terhadap dimensi social, yang lazim disebut pengembangan horizontal, yakni membuka peluang terhadap ditingkatkanya hubungan social diantara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungan fisik yang berarti memelihara kelestarian lingkungan disamping mengeksploitasinya. Pengembangan dimensi individualitas serempak dengan dimensi social berarti membangun terwujudnya hakikat manusia sebagai makhluk monodualis.
-         Pengembangan yang sehat dari dimensi kesusilaan akan menopang pengembangan dan pertemuan dimensi keindividualitas dan social. Hal ini menjadi jelas jika terjadi keadaan sebaliknya. Bukankah tidak adanya kesusilaan akan memisahkan hubungan antar manusia?.
-         Pengembangan yang sehat terhadap dimensi keagamaan akan memberikan landasan dari arah pengembangan dimensi keindividulaitas, social, dan kesusilaan.
-         Pengembangan domain kognitif, afektif, dan psikomotor disamping keselarasan (perimbangan antara ketiganya) juga perlu diperhatikan arahnya, yang dimaksud adalah arah pengembangan dari jenjang yang rendah kearah jenjang yang lebih tinggi. Pengembangan ini disebut pengembangan vertikal, sebagi contoh, pengembangan domain kognitif dari kemampuan mengevaluasi. Pengembangan yang terarah vertical ini penting demi ketinggian martabat manusia sebagai makhluk.
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa pengembangan dimensi hakikat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan terpadu terhadap dimensi hakikat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selaras. Perkembangan dimaksud mencakup yang bersifat horizontal (yang menciptakan keseimbangan) dan yang bersifat vertical (yang menciptakan ketinggian martabat manusia). Dengan demikian secara totalitas membentuk manusia yang utuh.
  1. Pengembangan yang tidak utuh.
Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi didalam proses pengembangan, jika ada unsure dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangani, misalnya dimensi social didomain oleh pengembangan dimensi idndividualitas ataupun domain afektif didomain oleh pengembangan domain kognitif. Demikian pula secara vertical ada domain tingkah laku yang terabaikan penangananya. Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantab. Pengembangan semacam ini merupakan pengembangan yang patologis.
  1. Sosok Manusia Indonesia seutuhnya.
Dinyatakan bahwa pembangunan nasional dilaksanakan didalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini berarti bahwa pembangunan itu tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah, seperti pangan, sandang, perumahan, kesehatan, ataupun kepuasan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, bebas mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab, atau rasa keadilan, melainkan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara keduanya. Selanjutnya juga diartikan sebagi keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhanya, antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan antar bangsa-bangsa dan juga keselarasan antara cita-cita hidup didunia dengan kebahagiaan di akhirat.
a)      Kesimpulan dan Saran.
Pencapaian pengetahuan manusia yang sesungguhnya tidak hanya diperoleh dengan argumen filosofis saja, atau bahkan tidak mungkin, yang berarti perlu adanya wahyu (mu’jizat atau miracle) dari Tuhan. Dalam kenyataan hidup atau realitas kehidupan ide tentang akal budi, iman, cinta, hasrat, imajiner, kehendak dan lain-lain,seperti daya cipta, rasa dan karsa seorang manuisa tidak bisa diberlakukan secara rasionalitas saja, misalnya dari manakah asalnya iman, cinta dan sebagainya?. Lebih jauh lagi makna kehidupan sebagai realitas ada (being) yang dinyatakan oleh Rene Descartes, secara filosofis ” cogito ergo sum” yang berarti  ’aku ada karena aku berfikir’ apakah mampu mendatangkan iman, cinta, hasrat, kehendak rasa dan sebagainya. Pendek kata apakah kita bisa menentukan hari esok dan kehidupan masa depan, jika dipermudah apakah manusia bisa kembali ke masa lalu, misalnya seperti mengembalikan hari-hari yang indah dan bahagia dimasa lalu atau pulang kerahim Ibu.
Disinilah kenyataan manusia tidak bisa melewati batas ruang dan waktu, sehingga kekuatan akal budi tidak bisa membuat dirinya iman tentang adanya Tuhan dan memberikan cinta pada sesama. Hal ini terjadi bukan sebagai keterbatasan akal budi manusia tetapi dikarenakan akal budi sebagai bagian dari kesatuan rohani dan jasmani manusia yang tidak bisa menembus batas dimensi ruang dan waktu, apapun yang bisa dijangkau oleh pengetahuan rasional tidak mampu melampaui jarak tertentu, yang lebih spesifik seperti dinyatakan oleh Immanuel Kant akal budi sebagai pengampu etika praktis. Dan jika dipersempit lagi pemahaman etika praktis ini atau bahkan tanpa etis sama sekali maka manusia adalah robot hidup (machine-robotic) dengan mengutamakan satu aspek dan penghapusan beberapa aspek psikologi lainya, seperti penerapan cuci otaknya (brain washing), maupun latihan disiplin khusus, bahkan penggunaan bioteknologi dan seterusnya. Dengan kata lain manusia dapat dijadikan dan sebagai alat (sarana dan prasarana) bagi manusia lainya. Apakah ini yang disebut manusia seutuhnya? Dimana dan kemana daya cipta, rasa, dan karsa seorang manusia, apakah manusia tidak punya penilaian (norm), daya nilai (volue) dan sebagainya. Dari sini nampak keterbatasan kajian ilmiah dari realitas kebenaran yang sesungguhnya, sesungguh apapun peradaban itu berusaha mencari jati dirinya, nampak celah besar yang tidak bisa dilampaui. Hingga perlu adanya kesadaran yang tulus tentang kehadiran seorang manusia pembawa pesan (the mesengger) meliputi sebuah peradaban, sehingga suatu peradaban dari waktu kewaktu terus bergulir, tetaplah peran seorang pembuat perubahan adalah sangat penting.
Realitas revolusi peradaban manusia dari zaman ke zaman membutuhkan seorang pribadi yang bisa melakukan perubahan dengan membawa pesan (the mesengger) agama dari Tuhanya, karena kondisi sudah diluar ambang batas kemampuan manusianya sendiri, sehingga setiap peradaban kehidupan membutuhkan mukjizat atau wahyu bagi kaum yang ada didalamnya. Inilah peran seorang manusia yang memberikan pencerahan serta perubahan pada suatu kaum dalam kehidupan dengan segala macam corak kehidupan budaya dan kulturnya amat penting, disetiap kali tantangan kehidupan menemui jalan buntu dan kejenuhan. Hal ini tidak sebatas disini saja sehingga kehidupan privat atau pribadi seseorangpun, yang sebenarnya sangat membutuhkan mukjizat ini untuk meraih tujuan hidup yang sesungguhnya, sebagai buktinya sekaligus argumen filosofisnya, sekalipun ia mahir dan begitu cerdasnya dalam pengetahuan, mustahil dirinya bisa meraih keimanan terhadap Tuhanya, lebih sederhananya seseorang tidak terpikirkan sebelumnya ketika menemukan cinta sejatinya. Banyak argumen filosofis tapi sifatnya aksidental dan kondisional yang secara lebih jauh bisa memperburuk situasi dan kondisi serta mengancam kehidupan manusia kelestarian dimuka bumi ini, dari sinilah keterbatasan kemampuan serta pemahaman manusia tentang hakikat kehidupan yang sesungguhnya, yang secara sederhana apakah kebahagian itu sesungguhnya.
Dari pemahaman ini dapat diketahui berapa lama pun ia hidup dan belajarnya tidak mungkin ia bisa menjadi pelaku transformasi perubahan yang sesungguhnya. Pendek kata, menjadikan sebuah teori sebagai agama pada sifat pragmatis serta kontektualnya, mungkin bisa saja merupakan tiupan angin segar sesaat. Padahal kenyataan hidup sudah jenuh dan sangat buruk sekaligus memprihatinkan, seperti kebodohan, kemiskinan, peperangan, diskriminasi, dan kejahatan-kejahatan lain yang merusak kehidupan manusia dimuka bumi ini, terus saja terjadi dimana-mana, apakah ini yang sesungguhnya menjadi jawaban sebuah teori yang di qudutskan, lalu apa yang dikatakan sebagai kebahagian yang sesungguhnya.
Rusaknya peradaban dan budaya serta lingkungan manusia di sebabkan oleh ulah serta perbuatan manusia itu sendiri. Dalam kebingungan dan kepedihan seperti ini dimana tidak seorangpun sanggup menanganinya, disinilah nampak kesadaran dan kepasrahan manusia kepada Tuhanya. Lalu mampukah seseorang sanggup menemukan sebuah bentuk yang sesungguhnya dari kenyataan hidup, sosok yang bagaimana yang bisa merubah bentuk sendi-sendi perubahan yang sebenarnya. Disinilah kehadiran pribadi pembawa wahyu atau pesan dari Tuhan sangat ditunggu-tungu dan diharapkan, untuk memberikan kabar gembira dan harapan hidup yang lebih baik kedepan meninggalkan kepedihan hidup yang sedang dijalani. Sebagaiman dinyatakan dalam Al Quran, ”Tuhan tidak akan mengubah nasib kaum (manusia) selama kaum (manusia) tersebut tidak mau merubah dirinya sendiri”. Oleh karena itu kehadiran pribadi- pribadi Nabi dan Rosul dalam setiap peradaban sangat penting dan harus diikuti dari masa ke masa. Dan sebagai anugerah serta pertolongan Tuhan atas umat manusia dalam keputusasaan serta tersesat kedalam kebodohan dan kebingungan diri. Pribadi Nabi dan Rosul adalah manusia plihan Tuhan yang universal dan bukan serta merta pertimbangan rasionalitas atau keinginan pribadi. Jadi kehadiran pribadi Nabi dan Rosul adalah utusan Tuhan dan mustahil inisiatif diri, wakil atau pilihan rakyat.
Dari pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa kenyataan hidup sebagai makna kehidupan yang sesungguhnya secara menyeluruh atau holistik adalah pemberian atau anugerah dari sang Pencipta Tuhan semesta alam, kehidupan atau prinsip ada (being) pada dasarnya adalah menyeluruh (holistik) dan bukan sebagai bagian keniscayaan filosofis seperti kejayaan dimasa lalu (reinkarnasi), untung dan rugi (evolusi), sebagai peralatan machine (robotik) dan sebaginya, manusia bisa dijadikan mesin atau alat tapi sesungguhnya ia manusia yang sakit. Sehingga makna perjalanan hidup sebagai akibat pengaruh lingkungan dan sebatas rasional saja tidak sampai pada pengungkapan pencarian jati diri atau hakikat diri pada sesungguhnya, hanya membodohkan bahkan merusak manusia pada hakikat sesungguhnya. Dikarenakan banyaknya perbedaan yang mustahil disatukan, sehingga sibuk berdebat dan hasilnya tetap bolak balik dalam lingkaran tanpa ujung dan pangkal. Hal ini atau mukjizat, tidak hanya berlaku hanya suatu kaum saja, lebih sederhanya, seorang ilmuwan pun mustahil jika tidak memerlukan mukjizat untuk mendapatkan anugerah imanya, karena pengetahuan hanya sebatas jarak tertentu serta tidak pernah melampaui apa yang sesungguhnya ia tidak sadari, karena pengetahuan rasiaonal tidak pernah melampaui dimensi ruang dang waktu.
Walaupun demikian, dinamika kehidupan bisa berkata lain, perbedaan adalah ’suatu rahmat’, dan selalu memberikan pernyataan, ’tanpa warna-warni hidup tidak akan indah’ agaknya selalu mejadi jalan pintas, sehingga meninggalkan pembahasan yang mendalam pada pengungkapan akan sisi manusia pada sesungguhnya. Disinilah pendidikan ilmu-ilmu sosial harus dipertegas dan perlu diperjelas untuk mengungkap realitas manusia sesungguhnya. Sehingga alasan tidak populer, tidak realistis, utopis, bahkan hayalan, dan sebaginya, pada pendidikan ilmu-ilmu sosial pada sesungguhnya akan selalu terhambat dalam pencarian hakikat manusianya bisa dikurangi bahkan dihapuskan. Disinilah perlu adanya kesadaran dan perjuangan yang tiada henti terkait pendidikan sosial pada sesungguhnya. Dan semoga pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak hanya terbatas pada lingkup pragmatis dan kontekstual sesaat saja, karena harapan kehidupan manusia adalah bahagia dunia dan akhirat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perwujudan sesungguhnya pengetahuan tentang dirinya adalah pengungkapan pengetahuan tentang hakikat dirinya, yang mana sesungguhnya puncak pengetahuan tentang hakikat dirinya adalah seperti yang dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad SAW: ”Man ’arofa nafsahu ’arofa Robbahu ” artinya siapapun yang mengetahui hakikat dirinya, maka seyogyanya ia mengetahui Tuhan-Nya, siapapun yang bersungguh-sungguh, maka ia akan menemukan hakikatnya jika ia dikehendaki, sepeti ungkapan sabda Nabi Muhammad SAW (man jadda wajada), disinilah puncak dari seluruh pengetahuan manusia tentang hakikat dirinya diidentifikasikan dan didedikasikan, sebagai manusia seutuhnya atau insan kamil. Pendek kata hidup kita tidak bisa lepas dari apa yang disebut takdir atau qodlo’ dan qodar dari Tuhan, walaupun tidak menafikan pengetahuan rasional, pada dasarnya kehidupan akan terus berjalan, yang berarti sejarah akan tetap bergulir walupun manusia lupa dan inkar akan kesatuan ontologis, serta teologis pada sesungguhnya, yaitu pada Tuhan-Nya.
Berikut cuplikan gambaran perilaku manusia: "Tiga macam Kekuatan", Ada segolongan orang mengaku tidak sanggup berpuasa karena bekerja berat, seperti seorang yang tubuhnya duduk disuatu tempat, tapi pikiran terkuras.  Ada juga orang yang memang kerja berat seperti para sopir, tukang, dan kuli angkut.  Banyak pula orang yang sakit tidak berpuasa karena harus minum obat. Kalau tak minum, sakit tambah parah, mungkin membawa kematian. Berikut dialog antara kedua orang muslim yang beriman dan mukallaf:  

a)      X. Itukan boleh, menurut syariat, karena berada di bawah hukum darurat,
menurut hukum.  Jadi apa salahnya?

b)      Y. Dari segi hukum tidak salah.  Benar.  Tapi keadaan darurat itu ada
batasnya. Jangan baru angkat kopor satu mengantar saudara pulang
kampung ke stasiun kereta, lalu dianggap darurat.
c)      X. Batasnya darurat di mana?
d)      Y. Batasnya adalah ketidakberdayaan.
e)      X. Lalu batasnya ketidakberdayaan di mana?
f)       Y. Batasnya adalah kematian!
g)      X. Lho kok begitu ?

h)      Y. Iya, sebab selama ia masih hidup, selama itu ia dianggap mempunyai
kekuatan, lemah atau tidaknya, bukan masalah.
i)        X. Kalau orang itu sakit, terbaring saja, kekuatannya di mana ?

j)        Y. Kekuatan ada tiga, yakni kekuatan tenaga, pikiran, dan hati.  Kalau seseorang sakit, tak bertenaga, pikirannya kacau karena pengaruh sakitnya,
ia belum bisa dikatakan tak berdaya karena masih punya kekuatan lain,
yakni kekuatan hati.
k)      X. Kekuatan hati sama dengan tekad atau niat ?

l)        Y. Kekuatan hati adalah kata keadaan sedangkan tekad adalah kata sifat, dan
niat adalah inti dari kekuatan.  Puncak tertinggi dari kekuatan hati
adalah kepasrahan, dalam keadaan bagaimanapun juga atau tawakal.
m)    X. Iya, tapi prakteknya sulit dilaksanakan.

n)      Y. Tergantung niat. Bulan Ramadhan ini adalah pendidikan ibarat calon
prajurit yang latihan perang. Lebih baik mandi keringat waktu
latihan dari pada mandi darah waktu bertempur.
  • o)      X. Kita kan bukan prajurit ?

p)      Y. Siapa bilang ? Tubuh kita, anggota tubuh kita, hawa nafsu, akal atau
pikiran, itu semua adalah prajurit.
q)      X. Kalau kita prajurit, komandannya siapa ?

r)       Y. Komandannya adalah niat ikhlas. Niat ini yang memerintah prajurit untuk
ikut atau tidak perintah Allah Swt.

s)       X. Betul.  Tapi niat tergantung petunjuk Allah.  Kalau belum ada petunjuk,
bagaimana ?
t)        Y. Petunjuk sudah ada dalam diri setiap orang, cuma tertutup hawa nafsu.
u)      X. Apa buktinya?

v)      Y. Buktinya dengan kalimat "Alastu birobikum qolu bala syahidna - apakah
engkau menyaksikan aku Tuhan-mu ? (Al-Araaf, 172).  Kalimat ini semacam
permintaan tanggung jawab dari Allah swt yang telah memberikan sesuatu
dalam diri manusia, yakni dorongan beribadah atau iman.
w)    X. Adanya di mana ?

x)      Y. Adanya tentu dalam hati.  Manusia menurut ilmu jiwa, mempunyai berbagai
dorongan atau kehendak, seperti dorongan untuk bersosialisasi, dorongan
memenuhi kebutuhan tubuh, dorongan untuk mengetahui, dan dorongan
beragama.  Jadi berarti, petunjuk itu sudah ada dalam diri manusia, cuma
orang banyak lalai.
Dari uraian cerita diatas dapat diketahui bahwa kesanggupan seseorang untuk melakukan sebuah tindakan tidak hanya didasarkan akan pengetahuan saja. Pendek kata, biarpun pengetahuanya setinggi langit tapi bisa saja perilakunya adalah kebalikanya. Karena kesadaran seseorang ditentukan beberapa factor, misalnya belum tentu seorang narapidana pasti buruk, bisa saja sewaktu-waktu ia insyaf dan kembali kejalan yang benar, karena petunjuk itu ada atau mukjizat itu benar adanya, dan pasti ditunjukkan, tinggal kita menyadarinya atau tidak. Dan yang utama adalah setiap manusia dipastikan mempunyai kesadaran itu namun kita perlu upaya untuk mencapainya. Pendek kata, “tidak ada dosa yang tidak diampuni, tidak ada amal kebaikan yang sia-sia”. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar mukjizat yang sangat nyata dan jelas bagi mereka yang beriman dan berfikir didunia ini. Subhanallah.





Bagian II
  1. Antara Reassion fall in Love (iman) dan Penalaran / akal budi (rasional ).
Pemahaman manusia tentang alam atau ada (being) ternyata berbeda-beda,. Berikut adalah pandangan beberapa filosof dan pendapat ahli agama, diantaranya:
1. Agama memahami kehidupan manusia tidak
  1. Kesejahteraan Hidup Manusia.
Kebutuhan dasar hidup manusia dapat dibagi menjadi dua kategori, kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan dasar hidup manusia didunia bertujuan memertahankan diri dan berkembang biak, seperti kebutuhan ekologi, ekonomi, sosial, budaya dan agama.
Pada umunya, para pakar ekonomi membedakan sistem ekonomi didunia menjadi dua sistem ekonomi, yakni sistem ekonomi kapiatalis dan sistem ekonomi sosialis. Sistem ekonomi kapitalis menjurus ke arah materialisme, dimana nilai instrumentalnya adalah persaingan sempurna, kebebasan ekonomi, kebebasan memiliki harta benda, informasi bebas, dan bentuk pasar yang monopolistic. Sedangkan sistem sosialis nilai intrumentalnya adalah perencanaan ekonomi yang bersifat sentralistik dan mekanistik, kepimilkan factor-faktor produksi oleh kaum proletar secara kolektif.
Berdasarkan pertimbangan kekuatan serta kelemahan masing-masing sistem ekonomi tersebut, perlu kiranya adanya kesadaran untuk mengembangkan suatu sistem ekonomi yang mengarah pada ekonomi yang memiliki nilai logis (obyektif), kebaiakan (etis), keindahan (estetis). Sistem ekonomi tersebut dimaksudkan adalah sistem ekonomi yang dapat membebaskan manusia dari penindasan, penekanan, kemiskinan, dan segala bentuk keterbelakangan, yaitu sistem ekonomi yang tidak bebas tanpa batas secara material atau formal dan tidak membebaskan diri dari nilai normative kemanusiaan dan agama.
Klasifikasi pendekatan ekonomi tersebut adalah untuk mensikapi kelemahan kedua sistem ekonomi diatas, seperti keterangan berikut:
  1. Konsumsi manusia harus dibatasi sampai pada tingkat yang perlu dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, serta sehatnya perilaku pasar, tidak sekedar untuk mengambil untung sebesarnya dan tanpa batas (kebebasan seluas-luasnya dari segi material dan formalnya).
  2. Ekonomi sebagai alat pemuas dan kebutuhan manusia harus berimbang. Untuk mencapainya keseimbangan tersebut perlu ditingkatkanya kualitas sumberdaya manusia agar mampu menigkatkan kecerdasanya dan kemampuan teknologinya menggali sumber-sumber alam yang terpendam.
  3. Pembatasan dalam pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa, dengan nilai-nilai normaitf.
  4. Pemerataan pendapatan dengan cara kekayaan seseorang yang diperoleh harus berasal dari usaha yang halal/legal.
  5. Adanya kesediaan melakukan kegiatan amal atau bakti social.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar