Ngudi Ngilmu 2
4 Mei 2011 pukul 22:13
Materi pembelajaran kewargaan dengan metode Interactive Learning.Oleh: Ahmad Izzul Ito’, S.Pd.
- A. Kerangka dasar dan struktur kurikulum.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. kelompok mata pelajaran estetika;
e. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
2. Kewarganegaraan dan Kepribadian.
a. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
b. Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.
3. Prinsip Pengembangan Kurikulum.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan. jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
b. Beragam dan terpadu kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
f. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum.
Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
b. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
d. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).
e. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
f. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
- B. Tujuan pendidikan kewarganegaraan.
- 1. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.
a. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu Kewarganegaraan.
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti- korupsi.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsabangsa lainnya.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara Langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
- 2. Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
b. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, Tata tertib di sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistim hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan internasional.
c. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak, Hak dan kewajiban anggota masyarakat, Instrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
d. Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong, Harga diri sebagai warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, Kemerdekaan mengeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri , Persamaan kedudukan warga negara.
e. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.
f. Kekuasan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi
g. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka
h. Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.
- C. Metode Diskusi.
Muhibbin Syah. 2000. dalam Buchori dkk, (20008:48), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubunganya dengan memecahkan masalah. Metode diskusi pada dasarnya adalah bertukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih cermat tentang permasalahan atau topik yang sedang dalam pembahasan.
1. Adapun kegunaan dari teknik diskusi antara lain:
- Untuk pemecahan masalah.
- Untuk mengembangkan sikap dan beraspirasi yang demokratis.
- Untuk menyampaikan dan membantu siswa menyadari adanya pandangan yang berbeda.
- Untuk mengembangkan keterampilan dialektis dan berkomunikasi.
- Untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan.
- Untuk membantu siswa merumuskan masalah dan prinsip-prinsip dan membantunya dalam menggunakan prisip tersebut, atau mempertahankan sebuah pendapat.
- Mendorong berpikir logis , dialektis, dan konstruktif.
- Melibatkan siswa dalam belajar menurut kemampuanya dengan menumbuhkan tanggung jawab untuk belajar dengan memberi kesempatan untuk menentukan pendirianya, mengembangkan argumentasinya, mempertahankan pandangan-pandanganya dengan kemungkinan dikritik oleh anggota kelompoknya.
- Untuk mengembangkan kepercayaan diri, kesadaran dan sikap yang tenang (poise).
- Melalui diskusi juga ditumbuhkan perasaan yang pada perkembanganya benar-benar mengubah sikap dan perilaku yang oleh teknik atau metode lain sulit mempengaruhinya. Disamping beberapa keuntungan dari metode diskusi ada beberapa kelemahan metode diskusi diantaranya: strategi diskusi walaupun diorganisir secara baik belum menjamin dilaksanakan kesepakatan kelompok, juga diskusi sulit diduga karena bisa saja berubah menjadi tanpa tujuan atau ”free-for- all” terutama jka ketua kelompok diskusi tidak produktif, tanpa ujung pangkal dan menjadi ”tempat bersatunya kebodohan”.
a. Persiapan.
1. Topik harus yang benar-benar dapat didiskusikan, merupakan masalah-masalah kontroversial dan dapat dipecahkan lewat diskusi.
2. Siswa harus siap, semua bahan dan alat yang diperlukan.
3. Perencanaan harus dilakukan atau agenda. Perlu adanya pernyataan pembukaan tentang tujuan dan tata cara diskusi yang lebih bersifat saran (suggestive) daripada merupakan resep yang harus diikuti (pre-scriptive). Dan jika memerlukanya, penyesuaian dapat dilakukan.
b. Gunakan batu loncatan untuk memulai diskusi. Bentuk teknik yang digunakan diantaranya adalah:
1) Mengemukan kasus atau masalah yang bisa dilakukan dengan bermain peran, hasil studi kasus secara tertulis, menghubungkan anekdot.
2) Atau dapat pula dikemukakan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang menantang.
3) Dapat pula digunakan sosiodrama untuk menarik minat.
4) Menantang kelompok dengan menyajikan kutipan atau pernyataan atau pertanyaan yang menantang.
5) Pemanasan kelompok dapat dilakukan dengan buzz session.
6) Dengan kuis atau tes awal.
c. Ciptakan lingkungan agar dapat berhadapan.
1) Menyusun ruang diskusi setengah lingkaran atau lingkaran penuh, merupakan bentuk pengaturan yang baik.
2) Usahakan diskusi berlangsung informal namun diupayakan agar tidak meluncur menjadi wadah ke-tidaktahuan.
3) Tekankan penghargaan setiap saat terhadap setiap orang.
4) Doronglah peserta yang malu agar berpertisipasi melalui pertnyaan-pertanyaan langsung kepada mereka. Pertanyaan seperti, ” apakah Anda sependapat”, atau ”apakah Anda akan memberi komentar/pendapat”.
d. Upayakan agar diskusi terus berjalan.
1) Usahakan pembahasan pada jalurnya. Untuk pernyataan kembali tentang masalah yang dibahas, atau reorientasi dibantu dengan ringkasan atau sebagai kesimpulan.
2) Dorong pula agar terjadi saling diskusi sepanjang aturan aturan diikuti. Lemparkan pertanyaan pada seluruh siswa.
3) Harus diyakini bahwa pandangan siswa adalah penting. Saat itu terkadang guru harus mengangkat topik atau masalah yang berbeda atau bahkan bertentangan, tetepi pandangan guru harus tetap tidak di ungkap. Misalnya mengemukakan pertanyaan dengan mengatakan ” sebagian orang tidak sependapat bahwa melakukan hal itu akan memberi manfaat”.
4) Biarkan diskusi bersifat impersonal, pada tingkat rasional. Berarti kepala panas harus didinginkan, dan emosi harus dikendalikan.
5) Diskusi tidak efektif jika emosional, tidak penting (immaterial) dan berubah menjadi kegaduhan yang tidak positif.
e. Berpikir rasional.
1) Sistematis, logis, konsisten dan kritis.
2) Klarifikasi pendapat, atau menguji pendapatnya sendiri atau orang lain.
3) Aplikasi dan kejelasan pendapat.
f. Bentuk-bentuk diskusi.
1) Diskusi kelompok kecil. Misalnya buzz groups. Bentuk ini adalah kelompok yang terdiri dari lima atau enam orang bersama-sama dalam beberapa menit mendiskusikan hal tertentu untuk tujuan tertentu.
2) Panel, forum, simposium, atau perdebatan gaya Inggris.
Caranya :
a. Kelas dibagi dua kelompok, dengan masing-masing ketua.
b. Setiap kelompok menyiapkan argumennya. Satu orang dari setiap kelompok menyampaikan pikiranya selama lima menit. Orang kedua setiap kelompok menyamoaikan pembicaraan tiga menit. Anggota lain memberi komentar.
3) Sikap Ketua atau pemimpin sidang diskusi. Menurut Eugene C. Kim dan Richard D. Kellogh (1983:131) yang harus diperhatikan adalah :
- Menghargai setiap gagasan.
- Setiap orang berhak mendapat perlindungan menyampaikan buah pikiranya walaupun itu tidak populer.
- Diskusi sebagai alat untuk mencari kebenaran bukan forum memaksakan ide pada orang lain.
1. Suasana kelas akan hidup. Sebab peserta didik mengarahkan pikiranya kepada masalah yang sedang didiskusikan.
2. menyadarkan peserta didik, bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan.
3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya.
4. Dapat menaikkan kompetensi kepribadian seperti toleransi, demokrasi, kritis, berpikir sistematis, sabar dan menghargai pluralitas dalam multikultural.
5. Kesimpulan-kesimpulan diskusi mudah dipahami peserta didik karena anak didik mengikuti proses berpikir sebelum-sampai pada kesimpulan.
h. Kelemahan-kelemahan metode diskusi.
1. Memungkinkan ada anak yang tidak ikut aktif, sehingga bagi peserta didik ini diskusi merupakan kesempatan untuk melepas diri dari tanggung jawab.
2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
- D. Metode Tanya Jawab.
Jadi pertanyaan yang baik adalah merupakan hal yang esensial dalam membangun kebiasaan berpikir reflektif. Jika pertanyaan itu hanya bersifat mengingat fakta belaka maka peserta didik hanya akan berusaha untuk tujuan itu saja, tidak belajar berusaha untuk bagaimana menggunakan informasi itu atau bahkan tidak memprosesnya, dalam pengertian hasil pemikiran dalam arti luas.
- E. Metode Simulasi.
Menurut Ronald T. Hyman (seperti dikutip oleh Gilstrap dan Martin, 1975:87) hal-hal yang dihadapi itu dapat melalui Bermain Peran (Role Playing), Drama Kehidupan Masyarakat (Socio Drama), dan Bermain Simulasi (Simulation Games).
- Bermain Peran (Role Playing).
Melalui bermain peran, peserta didik ”memasuki diri” orang lain / individu lain dengan perilaku seperti orang yng diperankannya, peserta didik akan memperoleh pengetahuan tentang orang dan motivasinya yang menandai perilakunya. Peranan adalah merupakan serangkaian perasaan, kata-kata, dan tindakan-tindakan terpola dan unik yang merupakan kebiasaan seseorang dalam berhbungan dengan orang lain, termasuk berhubungan dengan situasi dan benda-benda. Sebagai salah satu strategi mengajar bermain peran mempunyai fungsi dan tujuan misalnya seperti yang dikemukakan oleh Fannie R. Shaftel dan Geore Shaftel (1967) bahwa metode bermmain peran mempunyai fungsi, namun dua fungsi utamanya adalah ”education for citizen” dan ”group counseling” yang dilakukan guru di kelas.
Beberapa kelemahan metode bermain peran adalah sebagai berikut:
- Jika peserta didik tidak dipersiapkan ada kemungkinan tidak akan melakukan secara bersungguh-sunguh.
- Bermain peran mungkin tidak akan berjalan dengan baik jika suasana dikelas tidak mendukung.
- Bermain peran tidak selamanya menuju arah yang diharapkan seseorang yang memainkanya dan bahkan juga mungkin akan berlawanan dengan apa yang diharapkan.
- Peserta didik sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengaan baik. Peserta harus mengenal dengan baik peran yang akan diperankan.
- Bermain memeakan waktu yang banyak.
- Untuk berjalan baiknya sebuah peran, diperlukan kelompok yang sensitif, imajinatif, terbuka, saling mengenal sehingga dapat bekerja sama dengan baik. Sebagai strategi belajar mengajar, bermain peran harus dipersiapkan dengan baik, dimana semua yang terlibat baik sebgai pemeran maupun yang menyaksikan saling memiliki ikatan emosional sehingga antara yang memerankan dan yang menyaksikan peran itu dapat memetik pelajaran dari kegiatan yang dilakukan secara bermain peran tersebut.
- Pertentangan antara pribadi-pribadi (interpersonal conflicts).
- Mengungkapkan perasaan yang bertentangan.
- Menemukan cara-cara pemecahanya.
- Hubungan antar kelompok (intergroup relation).
- Mengungkap hubungan antar suku, bangsa, kepercayaan dan sebagainya.
- Mengungkap masalah yang merupakan konflik yang tidak nyata. Penggunaan bermain peran dalam hal ini adalah untuk mengungkap prasangka dan mendorong toleransi.
- Kemelut pribadi (individual dilemmas).
- Kemelut pribadi timbul jika seseorang berada pada dua nilai atau kepentingan berbeda.
- Jika sulit memecahkan permasalahan karena penilaian yang bersifat egosentrisme.
- Dengan berorientasi pada masa lampau dan kini (historical or contemporary problems). Menunjukkan misalnya betapa sulitnya permaslahan yang dihadapi pada masa lampau dan juga masa kini khususnya bagi para pejabat pemerintah atau pmpinan polititk dalam menghaddapi berbagai permasalahan yang menuntut pengambilan keputusan.
- Persiapan.
- Persiapan untuk bermain peran.
- Memilih permasalahan yang mengandung pandangan-pandangan yang bebeda dan kemungkinan pemecahanya.
- Mengarahkan peserta pada situasi dan masalah yang akan dihadapi.
- Memilih pemain.
- Pilih secara suka rela, jangan dipaksa.
- Sebisa mungkin pilih pemain yang dapat mengenali peran yang akan dibawakan.
- Hindari peamain yang ditunjuk sendiri oleh peserta.
- Pilih beberapa pemain agar sesorang tidak memainkan dua peran sekaligus.
- Setiap kelompok pemain paling banyak 5 orang.
- Hindari peerta membawakan peran yang dekat dengan kehidupan yang sebenarnya.
- Mempersiapkan penonton.
- Harus yakin bahwa pemirsa mengetahui keadaan dan tujuan bermain peran.
- Arahkan mereka bagaimana seharusnya beperilaku.
- Persiapan para pemain.
- Biarkan siswa mempersiapkanya dengan sedikit mungkiin campur guru.
- Sebelum bermain setiap pemain harus memahami betul apa yang dilakukannya.
- Permainan harus lancar, dan sebaiknya ada kata pembukaan, tetapi hindari melatih kembali saat sudah siap bermain.
- Siapkan tempat dengan baik.
- Kadang-kadang ”kelompok kecil bermain peran” merupakan cara yang baik bermain peran.
- Pelaksanaan.
- Upayakan agar singkat, bagi pemula lima menit sudah cukup, dan bermain habis, jangan diinterupsi.
- Biarkan agar spontanitas menjadi kunci.
- Jangan menilai aktingnya, bahsanya dan lain-lain.
- Biarkan peserta bermain bebas dari angka dan angkatan.
- Jika terjadi kemacetan hal yang harus dilakukan misalnya:
- Dibimbing dengan pertanyaan.
- Mencari orang lain untuk peran itu.
- Menghentikan dan melangkah ketindak lanjut.
- Jika pemain tersesat lakukan:
- Rumuskan kembali msalah dan keadaan.
- Simpulkan apa yang sudah dilakukan.
- Hentikan dan arahkan kembali.
- Mulai lagi setelah ada penjelasan singkat.
- Jika siswa mengganggu:
- Tugasi dengan peran khusus.
- Jangan pedulikan dia.
- Jangan bolehkan pemirsa mengganggu.
- Jika tidak setuju dengan cara temanya memerankan beri ia kesempatan untuk memerankan.
- Tindak lanjut.
- Diskusi.
- Diskusi tindak lanjut yang dapat memberi pengaruh yang besar terhadap sikap dan pengetahuan peserta didik.
- Diskusi juga dapat menganalisis, menafsirkan, memberi jalan keluar atau merekreasi.
- Didalam diskusi sebaiknya dinilai apa yang telah dipelajari.
- Melakukan bermain peran kembali.
- Kadang-kadang memainkan kembali dapat memberi pemahaman yang lebih baik (Disrikan dari Leonard H. Clark, 1973, dalam Wahab,2008: 100-114).
- Drama Kehidupan Masyarakat (Socio Drama).
- Diskusi.
- Persiapan untuk bermain peran.
Agar tidak keliru, maka akan diuraikan sedikit tentang ”dramatization” atau dramatisasi agar tidak keliru dengan sosiodrama. Mengapa dikatakan demikian, walaupun keduanya mengandung kata-kata drama namun keduanya berbeda sebab, yang satu bersifat terstruktur (dramatisasi) sedaangkan yang lainya tidak (sosiodrama). Dramatisasi disebut terstruktur karena untuk menggunakan metode tersebut diperlikan naskah, panggung, latihan serta penonton, sedangkan sosiodrama lebih bersifat spontan tanpa perlu naskaah dan latihan. Dramatisasi biasanya digunakan untuk menunjukkan kejadian bersejarah, untuk mengamabrkan kehidupan pada periode lain, atau mendemonstrasikan beberapa masalah kehidupan. Dalam melaksanakan dramatisasi pada umumnya peserta didik selalu terlibat dalam kerja yang banyak dan menuntut kreativitas. Misalnya, merencanakan dan membuat kostum, melakukan pekerjaan seperti panggung dan kelengkapan lainya, mempersipkan program, koreografi, dan lain sebaginya. Hal itu menuntut peserta didik untuk melakukan persiapan, kerja sama, partisipasi, dan penilaian.
Bentuk-bentuk lain dari metode sosiodrama misalnya, kontes kebudayaan, adat perkawinan antar suku dan bangsa, pakaian adat, mode, fashion, makanan dan minuman, kuliner, maupun masakan khas daerah, kelas-kelas sosial, gaya hidup, furnitur, bahasa, kisah-kisah dongeng, mitos, legenda, boigrafi, auto biografi dan lain sebagainya.
- Simulasi dan Bermain Simulasi (Simulation Games).
Pengembangan strategi simulasi dapat dilihat kebelakang paling tidak diturunkan dari tiga leluhur yaitu: simulator trainers, bermain (ice break) dan bermain peran. Berlatih dengan simulator (simulator trainers) telah dikembangkan oleh industri ruang angkasa untuk tujuan mengajar pilot pesawat terbang dan terakhir digunakan pula oleh para astronout, untuk memanipulasi lingkungan dan implikasinya adalah suatu kebenaran atau kenyataan.
Bermain (ice break) adalah merupakan bagian dari kebudayaan dan biasanya dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan merangsang pola pemikiran tertentu serta tujuanya lebih pada keakraban dan kebersamaan. Bermain sudah dianggap sebagai sesuatu yang bersifat persaingan individu atau kelompok, yang melibatkan sampai derajat tertentu keterampilan dan / atau keberuntungan, dan disarankan pada ketentuan-ketentuan yang disepakati. Dari simulasi memberi illusi tentang kenyataan tetapi mengeluarkan sebagian terbesar dari bagian-bagian yang tidak sesuai atau yang membahayakan peserta. dalam simulasi menerbangkan pesawat misalnya atau mengemudikan kendaraan, gerakan yang salah dari peserta latihan tidak akan menyebabkan jatuhya pesawat, atau terjadinya tabrakan kendaraan.
Metode simulasi lainya seperti mikro teaching, out bond, gladi, casting, olah tempat kejadian perkara, latihan tim SAR, tanggap darurat bencana, latihan gabungan keamanan, base camp, diklat, rekonstruksi, investigasi, sosialisasi, dan lain sebagainya. Keperluan lain dari kegiatan ini adalah mengembangkan dan mempelajari segala bentuk permainan dan simulasi sekaligus upaya inovasi, serta sebagai salah satu skill kompetensi profesional sebagai guru, sehingga kebutuhan akan hiburan dan pendidikan yang berkualitas dikelas bisa terwujud.
- Metode Berdebat Ala Inggris (British Style Debate).
- Salah seorang moderator dari kedua belah pihak diberi kesempatan berbicara sekitar lima menit.
- Orang kedua dari setiap pihak menyampaikan pembicaraanya selama tiga menit.
- Anggota kelompok lainy dari masing-masing tim memberikan komentar dan dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dari peserta. ( Dengan demikian setiap tim memperoleh kesempatan yang sama, secara bergantian antara pembicaraan yang mendukung dan yang negatif ).
- Salah seorang anggota dari setiap pihak memberi kesimpulan. Kegiatan-kegiatan tersebut jika waktu memuungkinkan maka dilanjutkan diskusi umum. Dalam melaksanakan Setrategi ini usahakan agar masalah atau isu olitik, sosial, dan ekonomi yang dikemukakan itu betul-betu menimbulkan kekompakan dari yang pro dan kontra agar tujuan perdebatan dapat dicapai secara optimum.
- Teknik Pengadilan (Jury- Trial Technique).
- Memilih issu atau masalah untuk diperdebatkan.
- Memilih pengacara, peneliti, dan saksi yang pro dan kontra atau jika dalam istilah pengadilan yang sebenarnya disebut saksi yang meringankan dan memberatkan.
- Minta agar seluruh peserta untuk meneliti masalah. Pengacara dan saksi harus mendapatkan seluruh fakta yang mungkin dengan bantuan peneliti.
- Usahakan menampilkan fakta seperti layaknya diruang pengadilan:
- Para saksi menampilkan seluruh bukti-bukti.
- Pengacara menanyai dan bertanya silang.
- Pengacara dari masing-masing pihak menafsirkan bukti-bukti yang diajukan dan berupaya membuktikan bahwa hal itu menguatkan kedudukanya.
- Dosen bertindak sebagai jaksa, mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang salah atau palsu, dan fakta-fakta yang tidak benar serta kesalahan lain yang jelas dari hasil-hasil pernyataan dalam sidang.
- Setelah semuanya memperoleh kesempatan untuk menampilkan semua kebenaran, maka dosen bertindak sebagai juri, untuk memilih pihak mana yang telah mengemukan argumen yang terbaik.
Materi perkembangan peserta didik.
Oleh: Ahmad Izzul Ito’, S.Pd.
- A. Perkembangan Peserta Didik.
- Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar, namun mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren, dan berkesinambungan. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tehap perkembangan berikutnya tidak terlepas, dan berdiri sendiri.
- Perkembangan selalu menuju proses diferensiasi dan integrasi. Proses diferensiasi artinya ada prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu, lambat laun bagian-bagiannya menjadi sangat nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan. Karena manusia merupakan totalitas (kesatuan), ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi, dan sosial. Perhatian yang berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi atau aspek lain.
- Perkembangan dimulai dari respon-respon yang sifatnya umum menuju yang khusus. Contoh, seorang bayi pada awalnya bereaksi tersenyum setiap melihat wajah manusia, dan setelah bertambahnya usia bisa membedakan wajah–wajah tertentu, dengan senyum atau tangisan.
Para ahli mengemukakan bahwa masa tenang atau equilibrium (ketika anak mudah di atur dan penurut) dan masa disequilibrium atau tidak tenang (ketika anak sukar diatur, mudah tersinggung, dan gelisah) pada seorang anak, terjadi silih berganti, sebagai mana alur sebuah spiral yang bergerak keatas. Namun, adanya perubahan – perubahan itulah merupakan ciri terjadinya perkembangan.
Setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan yang berbeda, baik secara fisik maupun mental. Dalam perkembangan, dikenal adanya irama atau naik turunya proses perkembangan. Menurut para ahli psikologi, setiap anak biasanya mengalami dua masa panca roba atau krisis, yang lazim disebut Trotz. Masa trotz ini terjadi dua periode, yakni:
1. Trotz periode ke-1, terjadi pada usia dua sampai tiga tahun, ciri-cirinya, egois, bersikap dan bertingkah selalu mementingkan dirinya sendiri.
2. Trotz periode ke-2, terjadi pada umur antara empat belas sampai tujuh belas tahun, ciri utamanya membantah orang tua atau ambivalen, dalam mencari identitas atau jati diri. Tentang trotz ke-2, perlu digaris bawahi umur 14 - 17 tahun bukan ”harga mati”, jadi setiap orang atau bangsa tidak sama. Setiap anak, seperti juga organisme lainnya, memiliki dorongan dan hasrat mempertahankan dari hal-hal membahayakan, seperti rasa sakit, rasa tidak aman, kematian , dan seterusnya.
Dalam masa perkembangan terdapat masa peka. Masa peka adalah suatu masa dalam perkembangan anak, saat suatu fungsi jasmani ataupun rokhani, dapat berkembang dengan cepat jika mendapat latihan yang baik dan kontinu. Montesori mengemukakan bahwa hanya sekali saja terjadi masa peka untuk tiap-tiap fungsi hidup.
Montesori, yang dalam pendidikanya lebih diarahkan pada penemuan masa peka anak, dengan metode menyediakan berbagai permainan dan anak harus memilih permainan yang disukainya, apabila sudah jelas dan terarah maka anak tersebut mendapat latihan dan bimbingan yang kontinu dengan baik. Perkembangan anak pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi faktor bawaan sejak lahir, tetapi dari lingkungan juga. Sebagai contoh setiap anak punya bakat berbicara, namun untuk berbicara tersebut mereka harus mendengar kata-kata dan kalimat dari orang sekitarnya (Qomaruddin. 2007:36).
Tugas–tugas perkembangan atau Developmental Task. Menurut Havinghurst, tugas perkembangan adalah suatu tugas yang timbul pada suatu periode dalam perkembangan seseorang, keberhasilan tugas ini mempengaruhi kehidupan seseorang di masa yang akan datang. Tugas tugas tersebut terdiri dari tiga macam kekuatan yang bekerja sama, yakni:
1. Kematangan physik.
2. Tekanan – tekanan kultural dari masyarakat.
3. Nilai-nilai dan hasrat pribadi dari seseorang.
1. Tugas – tugas perkembangan dalam masa kanak –kanak antara lain:
- Belajar keterampilan physis, yang di perlukan untuk permainan sedehana.
- Belajar bergaul dengan teman sebaya.
- Belajar menyesuaikan diri dengan keadaan sebagai pria atau wanita.
- Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
- Mengembangkan konsep – konsep kehidupan sehari hari.
- Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga masyarakat.
- Masa kanak – kanak adalah periode yang menjadi dasar bagi kehidupan.
- Perkembangan terjadi karena kematangan dan pembelajar.
- Perkembangan mengikuti pola tertentu dan dapat diramalkan.
- Semua individu adalah berbeda. Setiap tingkat masa perkembangan mempunyai ciri khas ( Qomaruddin. 2007: 44).
- Mengusahakan suatu lingkungan belajar yang kaya, yang menarik, yang menstimulasi dan menantang.
- Mengisi ruang belajar dengan benda – benda yang memperkaya perbendaharaan kata.
- Membacakan kepada anak anak cerita cerita.
- Memperbanyak komunikasi antara guru dan murid agar murid dapat memahami struktur kalimat.
- Mengusahakan anak dalam bertanya atau respon menggunakan kalimat yang lengkap.
- Membina kebiasaan pada anak dan mengusahakan agar kebiasaan itu menjadi kebutuhan, seperti mandiri, etika dan belajar.
- Pengetahuan (fakta, keterangan, buah fikiran, pengertian, generalisasi, dan sebagainya).
- Berbagai jenis ketangkasan dan ketangkasan, seperti gerak tubuh, komunikasi, ekspresi diri, membaca, menulis, berhitung, bersosialisasi, dan sebagainya.
- Berbagai kesanggupan hidup, seperti apresiasi, kritis, analitis, mengontrol emosi, berdaya kreatif dan aktif.
- Sikap jiwa yang positif, seperti rajin dan giat dalam beraktifitas, belajar, bertanggung jawab, toleransi, dan bersikap sosialis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar