Oleh: Ahmad Izzul Ito’, S.Pd.
- A. Pendekatan dan Jenis Penelitian dalam Pendidikan.
Menurut Donald Ary dkk, 1980, diterjemahkan Arief Furchan, 1982 : 20). Dalam sejarahnya manusia mencari jawaban atas segala persoalan yang mereka hadapi sebagai sumber pengetahuan menggunakan cara-cara sebagai berikut :
a. Pengalaman.
Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak diketahui dan digunakan orang. Berdasarkan pengalaman pribadi seseorang dapat menemukan jawaban atas banyak persoalan yang dihadapinya. Banyak kearifan yang ditemukan dari generasi ke generasi yang merupakan hasil dari buah pengalaman. Bahkan kemampuan untuk belajar dari pengalaman ini, pada umumnya dianggap sebagai ciri utama dari perilaku cerdas manusia.
Meskipun demikian, sebagai sumber kebenaran, pengalaman mempunyai kelemahan atau keterbatasan. Ada atau tidaknya pengaruh sesuatu kejadian terhadap seseorang akan bergantung kepada siapa orang itu. Hutan yang bagi seseorang merupakan cagar alam yang menyenangkan, mungkin merupakan belantara yang menyeramkan bagi orang lain. Kelemahan lain dari pengalaman ialah seringkali seseorang perlu mengetahui hal-hal yang tidak dapat dipelajari / diketahui lewat pengalamannya sendiri. Seorang anak dibiarkan sendiri mengerjakan soal–soal berhitung, mungkin dapat menemukan cara menjumlah, tetapi ia tidak mungkin dapat menemukan cara efisien untuk menghitung akar kuadrat. Seorang guru, melalui pengalamanya, dapat mengetahui jumlah keseluruhan murid dalam suatu kelas pada suatu hari, tetapi tidak dapat menghitung secara pribadi jumlah penduduk Indonesia seluruhnya.
b. Otoritas atau Wewenang.
Wewenang atau otoritas sering dijadikan pegangan dalam hal-hal yang sulit atau tidak mungkin diketahui melalui pengalaman pribadi. Artinya, orang mencari jawaban pertanyaan itu dari orang yang telah mempunyai pengalaman dalam hal itu, atau yang mempunyai sumber keahlian lainya. Apa yang dikatakan oleh orang yang diketahui mempunyai wewenang itu, kita terima sebagai kebenaran. Untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia, misalnya orang akan melihat laporan Biro Pusat Statistik Indonesia.
Sepanjang sejarah, kita dapat menemukan contoh-contoh mengenai ketergantungan orang pada wewenang dalam mencari kebenaran, terutama pada abad pertengahan ketika para pemikir Yunani, seperti Plato dan Aristoteles, dan pemimpin gereja lebih dipercaya sebagai sumber kebenaran, bahkan melebihi pengamatan atau pengalaman langsung. Meskipun wewenang merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan kita yang sangat berguna, kita tidak boleh melupakan pertanyaan, ”Bagaimana orang yang dianggap mempunyai wewenang itu mengetahui hal itu?” Dizaman kuno seorang yang berwenang dianggap benar karena kedudukanya belaka, misalnya seperti raja, kepala suku, atau kepala pendeta. Di zaman sekarang kita mempercayai seseorang sebagai suatu kebenaran hanya kalau ia mendasarkan pernyataanya itu pada pengalaman atau sumber-sumber pengetahuan lain yang diakui.
Wewenang berhubungan erat dengan adalah kebiasaan atau tradisi, yang kita jadikan pegangan guna menjawab pertanyaan yang ada hubunganya dengan profesi kita maupun untuk memecahkan masalah sehari-hari. Dengan kata lain, orang sering bertanya, ” Bagaimana hal ini dikerjakan dimasa lalu ?”. kemudian ia menggunakan jawaban atas pertanyaan itu sebagai pedoman bagi tindakanya. Kebiasaan atau tradisi telah lama mempunyai pengaruh kuat didunia sekolah. Para pendidik menganggap praktek-praktek masa lalu sebagai pedoman yang dapat dipercaya. Akan tetapi, penelaahan sejarah pendidikan mengungkap bahwa banyak tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya kemudian terbukti salah dan harus ditolak. Sebaiknya, kebiasaan dan tradisi ini diteliti dengan cermat terlebih dahulu sebelum diterima sebagai kebenaran.
c. Cara berpikir deduktif.
Sumbangan pertama yang amat berarti bagi pengembangan pendekatan sistematik dalam menemukan kebenaran diberikan oleh para ahli filsafat Yunani. Aristoteles dan para pengikutnya memperkenalkan penggunaan cara berpikir deduktif, yang dapat dirumuskan sebagai suatu proses berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui guna mencapai kesimpulan. Hal ini dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme, yang terdiri atas :
- Dasar pikiran utama (premis mayor).
- Dasar pikiran kedua (premis minor).
- Kesimpulan.
- Semua manusia adalah makhluk hidup (dasar pikiran utama).
- Socrates adalah seorang manusia (dasar pikiran kedua).
- Socrates adalah makhluk hidup.
Akan tetapi, cara berpikir deduktif juga memiliki keterbatasan. Kita harus mulai dengan dasar-dasar pikiran yang benar terlebih dahulu untuk sampai kepada kesimpulan yang benar. Kesimpulan silogisme tidak pernah melampaui isi premis-premisnya. Karena kasimpulan deduktif selalu merupakan perluasan dari pengetahuan yang ada sebelumnya, oleh karena itu penyelidikan ilmiah tidak dapat dilaksanakan hanya dengan menggunakan cara berpikir deduktif saja, karena sulitnya menentukan kabenaran universal dari berbagai pernyataan mengenai gejala ilmiah.
Cara berpikir deduktif dapat menyusun apa yang sudah diketahui dan dapat menunjukkan adanya hubungan baru pada waktu seseorang bertolak dari hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Namun, sebagai sumber kebenaran yang baru, cara berpikir deduktif masih belum memadai. Meskipun demikian, terlepas dari adanya kelemahan didalamnya, cara berpikir deduktif berguna dalam proses penelitian.
Cara berpikir ini memberikan sarana penghubung antara teori dan pengamatan (observasi). Cara berpikir deduktif memungkinkan peneliti menarik kesimpulan berdasarkan teori yang sudah ada tentang gejala yang seharusnya diamati. Deduksi dari teori dapat menghasilkan hipotesis, suatu bagian vital dalam penyelidikan ilmiah.
d. Cara berpikir induktif.
Kesimpulan yang berasal dari berpikir deduktif hanya benar apabila premis dasar yang menjadi kesimpulan itu benar. Akan tetapi, bagaimana orang mengetahui bahwa premis itu benar?. Diabad pertengahan, dogma sering menggantikan premis yang benar, yang berakibat diperolehnya kesimpulan-kesimpulan yang tidak sahih (valid).
Francis Bacon ( 1561 – 1626)-lah yang pertama kali menghendaki adanya pendekatan baru dalam cara mengetahui sesuatu. Ia berpendapat bahwa para pemikir hendaknya tidak merendahkan diri begitu saja dengan menerima premis orang yang punya otoritas sebagai kebenaran mutlak. Ia yakin bahwa seorang penyelidik dapat membuat kesimpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Bacon menyatakan agar para pencari kebenaran mengamati alam secara langsung dan membersihkan pikiran purbasangka dan gagasan-gagasan yang telah terbentuk sebelumnya, yang disebutnya sebagai ”pujaan” (idol).
Bagi Bacon, untuk memperoleh pengetahuan, seseorang harus mengamati alam itu sendiri, mengumpulkan fakta-fakta, dan merumuskan generalisasi dari hasil-hasil tersebut. Pentingnya pengamatan tampak dalam anekdot Bacon berikut:
Pada tahun 1432 masehi, terjadilah pertengkaran sengit dikalangan penganut agama tentang berapa jumlah gigi dimulut seekor kuda. Selama 13 hari perdebatan itu berlangsung tanpa henti. Semua buku kuno dan kitab agama dikeluarkan, dan terjadilah kajian yang menarik dan melelahkan, yang belum pernah terjadi didaerah itu sebelumnya. Pada pagi hari ke 14, seorang pendeta muda dengan sikap hormat meminta ijin kepada para seniornya untuk berbicara. Dan langsung berkata, yang membuat mereka yang bertengkar itu heran dan marah, ia memohon agar mereka mengambil keputusan dengan cara rendah dan asing. Ia meminta kepada mereka untuk membuka mulut kuda dan melihat kedalamnya untuk mencari jawaban bagi persoalan mereka. Dengan perkataan anak muda ini, harga diri mereka sangat terluka, dan mereka menjadi marah. Secara beramai-ramai mereka menerjang keluar anak muda itu dan memukulinya, serta melemparkanya ke luar ruang perdebatan. Karena, kata mereka, pasti setan telah menggoda anak muda yang berani itu untuk mengemukakan cara menemukan kebenaran yang tidak suci dan yang belum pernah terdengar sebelumnya, serta bertentangan dengan semua ajaran bapa-bapa pendeta. Sesudah berlangsung beberapa hari lagi perdebatan itu, akhirnya merpati perdamaian hinggap dipertemuan itu. Secara bulat mereka menyatakan bahwa masalah tersebut merupakan misteri yang abadi, karena sangat kurangnya bukti sejarah dan keagamaan mengenai hal itu. Merekapun menyuruh hal itu ditulis demikian.
Anak muda dalam cerita itu menyarankan sebuah cara baru untuk mencari kebenaran, yaitu dengan jalan mencari fakta, bukan menggantungkan diri pada orang yang berwenang atau pada spekulasi belaka. Inilah prinsip fundamental semua ilmu. Menurut sistem Bacon, pengamatan dilakukan pada kejadian-kejadian tertentu, seperti didalam kelas. Kemudian, berdasarkan kejadian-kejadian yang diamati tersebut, ditarik kesimpulan-kesimpulan seluruh kelas. Pendekatan ini dikenal sebagai cara berpikir induktif, yang merupakan kebalikan dari proses metode deduktif. Perbedaan antara cara berpikir deduktif dan induktif dapat dilihat dalam contoh berikut ini:
- Deduktif : setiap binatang menyusui mempunyai paru-paru. Kelinci adalah binatang menyusui. Oleh karena itu, setiap kelinci mempunyai paru-paru.
- Induktif : setiap kelinci yang pernah diamati mempunyai paru-paru. Oleh karena itu, setiap kelinci mempunyai paru-paru.
e. Pendekatan Ilmiah.
Pendekatan induksi secara eksklusif menyebabkan menumpuknya pengetahuan dan informasi terpisah-pisah, sehingga tidak banyak mendorong kemajuan pengetahuan. Lagi pula, diketahui bahwa banyak masalah yang tidak tidak dapat dipecahkan dengan cara induksi saja. Terpaksa para sarjana menggabungkan aspek-aspek paling penting dari metode induktif dan deduktif menjadi suatu teknik baru, yaitu metode induktif-deduktif atau pendekatan ilmiah.
Charles Darwin, dalam pengembangan teori evolusinya, umumnya dianggap sebagai orang pertama yang menerapkan metode ini dalam mencari pengetahuan. Darwin melaporkan bahwa ia telah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan pengamatan biologi, dengan harapan dapat membuat generalisasi tentang evolusi. Ia menggambarkan bagaimana ia sampai pada pendekatan baru itu.
Buku catatan saya yang pertama (tentang evolusi) mulai saya tulis pada bulan Juli 1873. saya bekerja menurut prinsip-prinsip Bacon murni. Tanpa teori apapun saya mulai mengumpulkan fakta banyak sekali, terutama yang berkenaan dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang dipelihaara manusia untuk diambil hasilnya, menyelidiki karya tulis, berbicara dengan para peternak dan pekebun yang ahli, dan banyak membaca. Ketika saya membaca daftar buku segala macam yang telah saya baca dan saya buat abstraknya, termasuk seluruh Jurnal dan Transaksi, saya terkejut atas kerajinan saya. Saya segera dapat melihat bahwa seleksi adalah dasar bagi keberhasilan manusia dalam membuat ras binatang dan tumbuh-tumbuhan menjadi berguna. Akan tetapi, bagaimana seleksi itu dapat diterapkan kepada organisme secara alami, untuk beberapa waktu lamanya, tetap misteri bagi saya.
Di bulan oktober 1838, yakni lima belas bulan setelah saya memulai penyelidikan sistematis saya, secara kebetulan saya membaca tulisan Malthus ”on Population”. Sebagai seorang yang sudah mengerti tentang perjuangan mempertahankan eksistensi yang terjadi dimana-mana, akibat pengamatan saya yang terus-menerus dalam jangka waktu yang lama terhadap kebiasaan binatang dan tumbuh-tumbuhan, saya segera sadar bahwa, dalam keadaan ini, variasi yang disukai atau menguntungkan akan cenderung tetap terjaga, sedang variasi yang tidak disukai atau tidak menguntungkan akan cenderung hilang. Akibatnya, akan muncul bentuk baru atau jenis baru. Disinilah saya akhirnya memperoleh teori yang dapat dipakai untuk bekerja.
Prosedur Darwin, yang hanya meliputi pengamatan saja, tidak produktif sampai bacaan serta pemikiran yang lebih jauh membawanya kepada perumusan hipotesis (kesimpulan sementara), guna menerangkan fakta yang telah ia kumpulkan melalui pengamatan. Kemudian ia melanjutkan langkahnya dengan menguji hipotesis ini dengan cara membuat deduksi dari hipotesis itu serta mengumpulkan data tambahan untuk menetapkan apakah data ini mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Dari metode penyelidikan ini, Darwin dapat mengembangkan teori evolusinya. Penggunaan cara berpikir induktif dan deduktif ini merupakan ciri penyelidikan ilmiah modern, yang dianggap sebagai yang dapat dipercaya guna memperoleh pengetahuan.
Pendekata ilmiah biasanya dilukiskan sebagai proses dimana penyelidik secara induktif bertolak dari pengamatan mereka menuju hipotesis. Kemudian secara deduktif, peneliti bergerak dari hipotesis ke implikasi logis hipotesis tersebut. Mereka menarik kesimpulan mengenai akibat yang akan terjadi apabila hubungan yang diduga itu benar. Apabila implikasinya yang diperoleh secara deduktif ini sesuai dengan pengetahuan yang sudah diterima kebenaranya, maka selanjutnya implikasi tersebut diuji dengan data empiris (yang dikumpulkan). Berdasarkan bukti-bukti ini, maka hipotesis itu dapat ditolak atau diterima.
Penggunaan hipotesis merupakan perbedaan utama antara pendekatan ilmiah dan cara berpikir induktif. Dalam cara berpikir induktif, kita melakukan pengamatan lebih dulu dan baru kemudiam menyusun informasi yang diperoleh. Dalam pendekatan ilmiah, kita memikirkan apa yang akan terjadi jika hipotesis benar, kemudian melakukan pengamatan sistematis guna menerima atau menolak hipotesis itu.
Pada umumnya dianggap bermanfaat kalau pendekatan ilmiah itu disajikan sebagai suatu rangkaian langkah yang harus diikuti. Perumusan secara pasti tentang langkah tersebut mungkin akan berbeda antara satu pengarang dengan pengarang lain. Namun, nama yang diberikan pada langkah-langkah tersebut tidak penting. Yang terpenting ialah menjelaskan gagasan bahwa pendekatan ilmiah adalah suatu proses penyelidikan sistematik yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung (interdependent). Ini metode penyelidikan yang berkembang secara berangsur-angsur dan telah dipertahankan tetap demikian, karena telah terbukti merupakan metode yang berhasil dalam memahami dunia kita yang rumit ini.
2. Hakikat Ilmu.
Dapat dikemukakan disini, bahwa semua ilmu, meskipun mungkin berbeda satu sama lainya dalam hal bahan atau teknik khususnya, mempunyai persamaan dalam metode umum untuk mencapai pengetahuan yang dapat dipercaya (reliabel). Metode penyelidikan itulah yang menentukan apakah suatu disiplin merupakan ilmu atau bukan. Ilmu dapat dirumuskan sebagai suatu metode penyelidikan yang memungkinkan penyelidik memeriksa gejala tertentu yang menarik perhatianya. Disamping metode para ilmuwan memasukkan beberapa aspek pendekatan ilmiah lain menurut Donald Ary dkk, 1980, diterjemahkan Arief Furchan, 1982 : 40, menyebutkan sebagai berikut:
a. Asumsi yang dibuat oleh ilmuwan.
Asumsi dasar yang dibuat ilmuan menyatakan bahwa kejadian–kejadian yang mereka teliti bersifat taat hukum atau tertib–tidak ada kejadian yang bersifat tak terduga. Ilmu didasarkan pada keyakinan bahwa semua gejala alam mempunyai faktor antensenden (antecenden-yang mendahului, sebab), yang dapat diketahui lewat pengamatan. Asumsi ini kadang-kadang disebut deterministisme universal. Orang primitif mengemukakan sebab-sebab yang bersifat supernatural untuk menjelaskan sebagian besar kejadian yang mereka lihat. Ilmu modern tidak mengalami perkembangan sampai orang mulai melihat diluar penjelasan supernatural itu dan memulai mengandalkan pengamatan alam untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi.
Asumsi itu mendasari setiap pernyataan yang menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu akan terjadi kejadian tertentu. Misalnya, ahli kimia dapat menyatakan bahwa kalau campuran potassium khlorat dan mangan dioksida dipanaskan, akan timbul oksigen. Para ahli ilmu perilaku juga dapat berasumsi bahwa tingkah-laku organisme pun bersifat taat hukum dan dapat diramalkan.
Bertalian dengan asumsi pertama itu ialah adanya keyakinan bahwa kejadian dialam ini, setidak-tidaknya sampai taraf tertentu, bersifat tertib dan teratur, dan bahwa ketertiban dan keteraturan alam ini dapat disingkap melalui metode ilmiah.
Asumsi kedua ialah bahwa kebenaran pada akhirnya dapat diperoleh secara tuntas hanya dari pengamatan langsung. Keyakinan terhadap pengamatan empiris inilah yang membedakan ilmu (science) dari yang bukan ilmu (non-science). Ilmuwan tidak pernah menggantungkan diri kepada orang yang mempunyai otoritas sebagai sumber kebenaran, melainkan terus berusaha mengumpulkan bukti-bukti yang relevan. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, kita temukan banyak contoh tentang para ilmuwan yang menolak pendapat yang berlaku dizamanya dan tetap meneruskan pengamatan dan eksperimen mereka. Eksperimen Galileo yang pertama dengan benda-benda yang jatuh, menghasilkan pengetahuan baru yang bertentangan anggapan yang dianut oleh para ahli zaman itu.
Akibat wajar dari asumsi ini ialah timbulnya keyakinan bahwa gejala yang benar-benar dapat dilihat eksistensinya sajalah yang berada didalam wilayah penyelidikan ilmiah.
b. Sikap para ilmuan.
Para ilmuwan mengakui adanya beberapa sikap khusus yang mereka peroleh pada waktu mereka menggeluti pekerjaanya.
1. Ilmuwan pada dasarnya orang yang sangsi, yang selalu meragukan setiap ilmu. Hasil-hasil penyelidikan dianggap bersifat sementara (tentatif) dan tidak diterima kecuali kalau hasil-hasil itu dapat dibuktikan kebenaranya.
2. Ilmuwan bersikap obyektif dan tidak memihak. Dalam melakukan pengamatan dan menafsirkan data, Ilmuwan bukan hanya sekedar mencoba membuktikan sesuatu, ia berusaha dengan sangat hati-hati untuk mengumpulkan data sedemikian rupa, sehingga setiap bias pribadi yang mungkin dimilikinya tidak mempengaruhi pengamatan mereka.
3. Ilmuwan berurusan dengan fakta-fakta, bukan dengan nilai-nilai. Ia tidak bermaksud menunjukkan implikasi moral dari hasil penyelidikanya. Ia tidak menentukan apa yang baik dan apa yang jelek.
4. Ilmuwan tidak puas dengan fakta yang terpisah-pisah, melainkan terus berusaha menyatukan dan menyusun hasil-hasil penyelidikan secara sistematis. Ia ingin menempatkan hal-hak yang telah diketahui kedalam suatu sistem yang tertib.
Dengan demikian, ilmuwan bertujuan menghasilkan teori-teori yang berusaha menyatukan hasil-hasil penyelidikan empiris kedalam pola yang mempunyai arti. Akan tetapi menganggap teori itu bersifat sementara (tentatif), yang dapar berubah apabila ditemukan bukti-bukti baru yang lebih meyakinkan.
c. Puncak teori ilmiah adalah bentuk perumusan teoritis.
Aspek terakhir dari pendekatan ilmiah yang perlu dipertimbangkan ialah penyusunan teori. Para ilmuwan, melalui penyelidikan empiris, mengumpulkan banyak fakta. Akan tetapi, sesudah fakta-fakta ini terkumpul, fakta-fakta itu perlu disatukan, disusun, dikelompokkan dengan maksud agar hasil-hasil penyelidikan yang terpisah itu lebih mempunyai makna. Hubungan-hubungan signifikan yang ada harus diidentifikasikan serta diterangkan. Dengan kata lain, teori harus dirumuskan. Teori dilukiskan sebagai ”suatu himpunan pengertian ( construct atau concept) yang saling berkaitan, batasan, serta proposisi yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala-gejala dengan jalan menetapkan hubungan yang ada diantara variabel-variabel, dan dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala tersebut”.
Teori menyatukan hasil-hasil pengamatan, sehingga memungkinkan ilmuwan membuat pernyataan-pernyataan umum mengenai variabel-variabel dan hubungan antar variabel. Tujuan akhir ilmu adalah membentuk teori. Pertanyaan ini akan terdengar aneh bagi mereka yang menganggap teori sebagai dugaan yang kabur atau spekulasi yang tidak praktis. Akan tetapi, teori ilmiah adalah sesuatu keterangan sementara tentang gejala-gejala. Dari keterangan semacam ini, kita dapat meneruskannya keramalan dan akhirnya ke pengendalian.
Teori yang terutama untuk menjelaskan pengamatan-pengamatan sebelumnya dikenal sebagai teori induktif. Dan suatu teori yang dilakukan dengan sedikit atau tanpa pengamatan terhadap gejala-gejala, dapat digolongkan sebagai teori deduktif-hipotetis. Teori ini umumnya terdiri atas seperangkat hipotetsis yang kemudian membentuk suatu sistem deduktif. Artinya, teori ini tersusun dari seperangkat proposisi hipotesis, kemudian dari hipotesis-hipotesis yang lebih tinggi ditarik serangkaian deduksi secara logis.
Salah satu caranya adalah dengan jalan menarik kesimpulan tentang apa yang akan terjadi jikalau hubungan dalam sekelompok gejala juga terdapat dalam sekelompok gejala lain. Misalnya, telah diketahui bahwa janin binatang menyusui pada mulanya adalah sebuah sel saja, yang menyerupai bentuk paling primitif dari kehidupan binatang, lalu berkembang melalui tahap-tahap yang menyerupai perkembangan evolusi jenis (species) mereka. Telah dibuat hipotesis bahwa teori yang serupa akan dapat menerangkan pertumbuhan sosial anak-anak, dan dengan demikian terbentuklah teori rekapitulasi mengenai perkembangan anak, yang menyatakan bahwa pertumbuhan perilaku sosial anak akan mengikuti sejarah sosial manusia; yakni, pada tahap awal perkembangannya, anak-anak akan bertingkah laku seperti orang biadab dan kemudian berkembang melalui tahap barbar dan setengah beradab, menuju kearah menjadi beradab. Meskipun ada diskripsi tentang kelas yang sering terdengar diruang dosen, teori rekapitulasi perkembangan anak ini belum terbukti bermanfaat untuk menerangkan pertumbuhan sosial anak dan tampak kini sudah ditinggalkan.
Kebanyakan teori tidak bersifat induktif murni dan tidak pula bersifat deduktif-hipotesis murni, melainkan terbentuk ketika beberapa pengamatan-pengamatan tersebut berlangsung, serta menuntun pengamatan yang telah dilakukan dan kemudian diperlukan suatu teori guna meringkas pengamatan tersebut, serta menuntun pada pengamatan sesudahnya.
3. Metodologi penelitian.
Metodologi adalah berkaitan dengan suatu konsep metode, yang mempersoalkan: apakah arti metode, apakah sifat dasar metode, apakah ada metode yamg khas bagi ilmu? Apakah ada kaitan antara tujuan suatu penyelidikan dengan metode yang harus dipakai?. Metodologi meletakkan prosedur yang dipergunakan untuk menguji proposisi. Prosedur ini dijustifikasi maknanya dengan argumen filosofis. Sehingga jelas bahwa metodologi– metodologi mengklaim untuk menentukan prosedur yang benar bagi ilmu, harus memperkirakan bentuk pengetahuan yang didalamnya beberapa pengertian superior yang dihasilkan dalam ilmu. Ilmu diperkirakan valid hanya bila hasilnya sesuai dengan prosedur, yang diperkirakan tidak dapat disahkan ilmu. Metodologi meletakkan aturan bagi prosedur praktek ilmu, penderivisian makna pengetahuan dibuktikan filsafat. Metodologi adalah produk filsafat dan ilmu-ilmu adalah realisasi dari metodologi (Barry Hindes, 1977: 5, dalam tim dosen filsafat ilmu, FF UGM, tentang Filsafat Ilmu ).
Ciri utama penelitian ilmiah, bila dibandingkan dengan penelitian jenis-jenis penelitian informal-intuitif, adalah adanya penggunaan prosedur-prosedur yang didasarkan rasio untuk memperluas pengetahuan yang dianggap terpercaya (reliabel) dan sahih (valid) oleh masyarakat terdidik [ Petunjuk Penelitian Bidang Pengetahuan Pengembangan Kemanusiaan dan Organisasi ( HOD ), 1991].
Dalam ilmu-ilmu sosial banyak muncul perbedaan pendapat mengenai apa hakekat pengetahuan dan prosedur-prosedur untuk memperolehnya. Salah satu cara berpikir tentang bagaimana penelitian pada umumnya memberikan sumbangan kepada pengembangan pengetahuan dalam suatu disiplin adalah mempelajari hirarki pengetahuan sebagaimana disarankan oleh Marillyn Freimuth, dalam Kjell Erik Rudestam dkk, 1992. diterjemahkan Hartono (2000:26), sebagamana berikut:
Tingkat Aksiologi/Epistemik. Inilah tingkat hipotesa dasar yang penting yang membentuk landasan isi dan metode dalam suatu bidang penelitian. Epistemologi adalah studi tentang hakekat pengetahuan. Sedangkan Aksiologi adalah studi tentang etika, nilai-nilai, dan estetika. Contoh-contoh tentang konstrak pada tingkat aksiologi mencakup prinsip-prinsip yang menjelaskan hubungan sebab-akibat serta pengetahuan tentang sistem-sistem terbuka. Dalam banyak hal abad ke-20 memberikan “axial shift” baru (Mahoney, 1990) atau titik balik dalam sejarah pengetahuan, yang jauh dari objektifisme rasional, yang menilai bahwa pengetahuan ilmiah didirikan atas dasar kebenaaran-kebenaran empiris objektif dan mengarah pada konsepsi alam semesta yang relatif dan epistimologi “pascastructuralis”.
Tingkat Teoritis. Ini adalah tingkat model dan teori. Teori adalah premis-premis untuk menghitung data, misalnya teori FIRO tentang perilaku interpersonal dalam kelompok (Schutz, 1966) atau teori asosiasi deferensial dalam studi tentang kejahatan (Sutherland, 1924). Istilah model telah digunakan telah digunakan dalam ilmu-ilmu sosial yang seringkali dengan pengertian yang membingungkan. Tetapi dalam konteks ini model dipahami sebagai teori yang lebih tinggi tingkatanya, yaitu sistem representasi pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi yang dapat menjelaskan dan dijelaskan oleh teori-teori lain (yang serupa dengan kerangka berpikir yang memudahkan para peneliti dan disebut “paradigma” oleh Thomas Kuhn [1962]. Dengan demikian, psikoanalisis dapat dilihat sebagai sebuah model, yaitu untuk mempelajari dan memahami misteri-misteri perilaku manusia. Masing-masing model memiliki serangkaian asumsi tertentu. Dalam hal psikoanalisis, asumsi-asumsi ini mencakup pentingnya determinisme kausal dan motivasi tak sadar sebagai konstrak inti.
Tingkat Empiris. Dalam bidang epistemologi, empirisme mengacu pada komitmen untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indera (dalam bahasa Yunani secara literal maknanya “berdasarkan pada pengalaman“). Empirisme sering kali dibedakan dengan rasionalisme, yang mengacu pada pengetahuan yang secara murni diperoleh dari pikiran dan penalaran dan pada tradisi-tradisi filosofis dan agamis yang lebih alamiah dalam mencapai kesimpulan. Dalam konteks sekarang, tingkat empiris mencakup hipotesis dan metode serta data penelitian ilmiah. Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah-masalah yang pada umumnya didasarkan pada teori.
Peran utama penelitian dalam skema ini adalah menghubungkan suatu yang teoritis dengan suatu yang empiris. Teori memerlukan dukungan data agar tetap rasional, sedangkan metode memberikan asumsi-asumsi yang sifatnya teoritis. Perlu dicatat bahwa hasil-hasil penelitian tidak memberikan sumbangan langsung kepada tingkat aksiologis (epistemis) tidak juga kepada model-model dasar. Tingkat-tingkat tersebut mencerminkan komitmen nilai fundamental dan pilihan (preferensi) personal yang jarang dimodifikasi berdasarkan data tambahan, khususnya jenis data yang dikembangkan oleh penelitian ilmiah. Kiranya sulit untuk membayangkan seorang psikoanalisis menjadi behavioris atau seorang republikan yang bergabung dengan demokrat tanpa perubahan mendasar dalam nilai-nilai yang melampaui temuan-temuan yang dihasilkan oleh serangkaian studi penelitian. Karena sebagian besar peneliti begitu kuatnya mengidentifikasi nilai-nilai tertentu dan membawa banyak preferensi personal kedalam penelitian mereka, maka semakin pentinglah belajar membedakan antara kepercayaan dengan pendapat, disatu pihak, dan dukungan atas gagasan yang didasarkan data, dipihak lain.
Pemahaman yang kurang luas tentang sejarah ilmu pengetahuan hanyalah sekedar sekelumit pengalaman yang harus menghindari pendapat yang menyesatkan bahwa penelitian menemukan kebenaran. Dahulu kala, melobangi tengkorak merupakan cara yang bisa diterima untuk mengusir roh jahat yang menyebabkan sakit mental dan tempo dulu matahari dianggap mengelilingi bumi. Orang ingin tahu sisa-sisa kebenaran ilmiah masa kini yang bagaimanakah yang dianggap menggelikan dimasa yang akan datang. Sebenarnya, apa yang bisa disumbangkan penelitian adalah serangkaian observasi cermat yang mendukung atau mempertanyakan validitas teori kita yang pada giliranya berdasarkan pada kepercayaan-kepercayaan dan asumsi-asumsi yang sebagian besar tidak bisa diuji. Dan kadang-kadang pada momentum-momentum perubahan ilmu pengetahuan, paradigma baru tampak bisa menjelaskan data-data yang ada dan memberi petunjuk penelitian berikutnya.
Setiap disiplin ilmu sosial dan beberapa peneliti tampak memiliki pendekatan sendiri untuk menggali ilmu pengetahuan. Misalnya, studi-studi tentang pendapat umum biasanya berdasarkan pada metode-metode penelitian survey, studi-studi psikoanalitik tentang anak menggunakan teknik-teknik observasi, studi-studi tentang efektivitas organisasi menggunakan metode-metode penelitian tindakan (action research) dan studi-studi kasus, penelitian-penelitian historis mengenai kejadian-kajadian politik dan sosial mendasarkan pada catatan-catatan (dokumen) arcvhival dan analisis isi, dan penelitian-penelitian laboratorium mengenai proses-proses persepsi menekankan penggunaan eksperimen dan pengujian hipotesa. Dalam bidang yang anda pilih, sangatlah penting untuk menanyakan bagaimana penelitian memperoleh legitimasi sebagai pengetahuan yang terpercaya ( HOD, 1991). Tidak ada bagian hasil penelitian yang meragukan asumsi-asumsi dan nilai-nilai epistemologis. Tentu saja strategi-strategi penelitian akan berbeda-beda bergantung pada masalah yang diteliti dan pada hasil-hasil yang diperoleh. Satu hal yang terpenting dalam penelitian tampaknya ialah hakekat hubungan antara peneliti dengan topik penelitian.
Satu-satunya yang bersifat universal dalam pengetahuan ilmiah adalah komitmen umum pada penggunaan argumentasi logis dan bukti faktual untuk sampai pada kesimpulan yang dianggap tentatif (sementara) serta tunduk pada amandement (hasil-hasil penelitian) berikutnya (HOD, 1991). Para ilmuwan yang baik dalam melakukan suatu tindakan seringkali menyimpang dari filsafat ilmu “yang resmi” dan metodologi yang sah. Sebagaimana yang dikemukakan William Bevan (1991;478) seperti berikut:
Kalau anda ingin tahu tentang apa penciptaan ilmu pengetahuan yang efektif itu, maka jangan mendengarkan apa yang dikemukakan oleh para ilmuwan kreatif tentang sistem-sistem formal mereka. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Bilamana mereka ikut dalam penciptaan ilmu pengetahuan yang baik dan efektif, mereka biasanya tidak mendasarkan diri pada presuppositions mereka; melainkan mereka menggunakan pendekatan praktis dimana keputusan-keputusan mereka dilandasi persyaratan-persyaratan pemecahan masalah tertentu (hal.478).
Kunci mengevaluasi laporan penelitian terletak pada apakah metode yang dipilih cukup teliti dan tepat bagi permasalahan penelitianya, dan apakah penelitian secara konseptual dan teoritis memiliki dasar kuat. Semakin memahami berbagai alternatif strategi penelitian, semakin cermat dan tepatlah pilihan metode penelitian ( Kjell Erik Rudestam dkk, 1992. diterjemahkan Hartono 2000:29).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar